Apakah perbedaan dari Syar'i dan Syari'at ?

0

 


1. Apa Itu “Syar’i” atau “Syariat”?

Secara sederhana, syariat berarti aturan hidup menurut ajaran Islam, mencakup cara beribadah, berperilaku, berpakaian, bekerja, bersosial, hingga mengatur apa yang boleh (halal) dan tidak boleh (haram).
Istilah syar’i berarti sesuai dengan aturan tersebut.

Dalam bahasa lain:
Syariat = panduan hidup.
Syar’i = sesuai panduan.

Syariat bukan cuma tentang pakaian atau logo halal, tetapi cara hidup yang menampilkan nilai moral, etika, dan kebaikan.

2. Mengapa Sering Dianggap Hanya Soal “Label Islami”?

Fenomena yang sering terjadi hari ini:

  • Apa pun yang diberi label syar’i dianggap otomatis baik.
  • Orang lebih fokus pada penampilan luar daripada nilai inti.

Misalnya:

  • Baju dijual dengan label “gamis syar’i”, tapi perilaku jual-belinya tidak jujur.
  • Makanan diberi label “halal”, tetapi cara kerjanya penuh manipulasi.

Padahal makna syariat jauh lebih dalam daripada simbol atau label.

3. Bentuk Syariat dalam Kehidupan Sehari-hari

Syariat bukan suatu konsep abstrak. Berikut bentuk konkretnya:

a. Dalam ibadah

  • Shalat tepat waktu
  • Menjaga kebersihan diri
  • Membaca Al-Qur’an dengan adab

b. Dalam cara berpakaian

  • Menutup aurat sesuai ketentuan
  • Tidak tabarruj (berlebih-lebihan menarik perhatian)

c. Dalam hubungan sosial

  • Tidak menipu
  • Tidak merugikan orang lain
  • Menghormati sesama

d. Dalam aktivitas ekonomi

  • Tidak riba
  • Jual beli yang jujur
  • Transparansi harga

e. Dalam bermedia sosial

  • Tidak memfitnah
  • Tidak menyebar hoaks
  • Tidak membuka aib orang

Jadi syariat itu menyentuh hampir semua aspek hidup, bukan sekadar pakaian religius.

4. Bagaimana Bentuknya Saat Ini?

Beberapa fenomena yang terlihat:

a. Komersialisasi Syariat

Syariat berubah jadi brand.
Contoh:

  • “Hijab syar’i premium”
  • “Event islami” tapi tujuan utamanya bisnis, bukan edukasi
  • Label halal sebagai strategi marketing

b. Definisi yang Dipersempit

Syariat disempitkan hanya pada pakaian atau ritual, padahal:

Pakaian syar’i tapi akhlak tidak syar’i = makna syariat menjadi dangkal.

c. Fenomena “Halal-Haram Campur Aduk” di Media Sosial

Di TikTok, IG, YouTube, sering muncul:

  • Konten motivasi islami bercampur dengan musik haram
  • Influencer tampil “syar’i” tapi kontennya penuh ghibah
  • Tren hijrah yang fokus estetika, kurang pada akhlak
  • Tantangan (challenge) bareng pasangan yang melanggar batas, tapi diklaim “positif”

Media sosial “mengemas” syariat jadi gaya hidup visual, bukan nilai moral.

5. Contoh Perilaku yang Menyimpang dari Makna Asli Syariat

a. Lebih peduli tampilan daripada akhlak

  • Pakai baju syar’i, tapi sering menghina orang lain di komentar.
  • Konten OOTD “hijab syar’i”, tapi pose-pose berlebihan.

b. Mencari popularitas lewat simbol agama

  • Dakwah tapi sensasional.
  • Meme islami tapi tidak adab.

c. Konsumtif atas nama agama

  • Membeli produk “islami” bukan karena kebutuhan, tapi tren.
  • Mengikuti ustaz viral tanpa memeriksa kredibilitas.

d. Normalisasi campur aduk halal-haram

  • Konten masak dengan musik dan goyangan, tapi caption “Bismillah”.
  • Jualan dengan cara menipu, tapi promosi “halal dan amanah”.

6. Mengapa Penyimpangan Ini Terjadi?

a. Media sosial menciptakan budaya visual

Yang dinilai “syar’i” adalah apa yang terlihat di kamera, bukan perilaku saat tidak dilihat orang.

b. Kurangnya pemahaman mendalam

Pemahaman syariat sering didapat dari potongan video <30 detik, bukan belajar dari guru yang benar.

c. Tekanan sosial

Takut terlihat tidak religius, akhirnya mengikuti tren tanpa memahami esensinya.

d. Komodifikasi agama

Syariat dijual sebagai produk.

7. Dampaknya bagi Masyarakat

  • Makna syariat menjadi kabur
  • Masyarakat bingung membedakan mana yang benar
  • Agama terlihat hanya soal gaya, bukan akhlak
  • Pertengkaran di komentar soal hal kecil dan sepele
  • Budaya tabarruj digital meningkat meski dibungkus simbol religius

8. Kesimpulan: Kembali ke Makna Asli Syariat

Inti syariat bukanlah label, pakaian, atau tren.
Intinya adalah:

Menata hidup sesuai nilai kebaikan, kejujuran, dan ketakwaan.

Jika hanya fokus pada tampilan luar, maka makna syariat akan terus menyimpang, apalagi di era konten pendek dan budaya viral.

Syariat adalah nilai, bukan dekorasi.

 


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)