1. Apa Itu “Syar’i” atau “Syariat”?
Secara
sederhana, syariat berarti aturan hidup menurut ajaran Islam,
mencakup cara beribadah, berperilaku, berpakaian, bekerja, bersosial, hingga
mengatur apa yang boleh (halal) dan tidak boleh (haram).
Istilah syar’i berarti sesuai dengan aturan tersebut.
Dalam
bahasa lain:
Syariat = panduan hidup.
Syar’i = sesuai panduan.
Syariat
bukan cuma tentang pakaian atau logo halal, tetapi cara hidup yang
menampilkan nilai moral, etika, dan kebaikan.
2. Mengapa Sering Dianggap Hanya Soal “Label
Islami”?
Fenomena
yang sering terjadi hari ini:
- Apa
pun yang diberi label syar’i dianggap otomatis baik.
- Orang
lebih fokus pada penampilan luar daripada nilai inti.
Misalnya:
- Baju
dijual dengan label “gamis syar’i”, tapi perilaku jual-belinya tidak
jujur.
- Makanan
diberi label “halal”, tetapi cara kerjanya penuh manipulasi.
Padahal
makna syariat jauh lebih dalam daripada simbol atau label.
3. Bentuk Syariat dalam Kehidupan Sehari-hari
Syariat
bukan suatu konsep abstrak. Berikut bentuk konkretnya:
a. Dalam ibadah
- Shalat
tepat waktu
- Menjaga
kebersihan diri
- Membaca
Al-Qur’an dengan adab
b. Dalam cara berpakaian
- Menutup
aurat sesuai ketentuan
- Tidak
tabarruj (berlebih-lebihan menarik perhatian)
c. Dalam hubungan sosial
- Tidak
menipu
- Tidak
merugikan orang lain
- Menghormati
sesama
d. Dalam aktivitas ekonomi
- Tidak
riba
- Jual
beli yang jujur
- Transparansi
harga
e. Dalam bermedia sosial
- Tidak
memfitnah
- Tidak
menyebar hoaks
- Tidak
membuka aib orang
Jadi
syariat itu menyentuh hampir semua aspek hidup, bukan sekadar pakaian
religius.
4. Bagaimana Bentuknya Saat Ini?
Beberapa
fenomena yang terlihat:
a. Komersialisasi Syariat
Syariat
berubah jadi brand.
Contoh:
- “Hijab
syar’i premium”
- “Event
islami” tapi tujuan utamanya bisnis, bukan edukasi
- Label
halal sebagai strategi marketing
b. Definisi yang Dipersempit
Syariat
disempitkan hanya pada pakaian atau ritual, padahal:
Pakaian
syar’i tapi akhlak tidak syar’i = makna syariat menjadi dangkal.
c. Fenomena “Halal-Haram Campur Aduk” di Media
Sosial
Di
TikTok, IG, YouTube, sering muncul:
- Konten
motivasi islami bercampur dengan musik haram
- Influencer
tampil “syar’i” tapi kontennya penuh ghibah
- Tren
hijrah yang fokus estetika, kurang pada akhlak
- Tantangan
(challenge) bareng pasangan yang melanggar batas, tapi diklaim “positif”
Media
sosial “mengemas” syariat jadi gaya hidup visual, bukan nilai moral.
5. Contoh Perilaku yang Menyimpang dari Makna Asli
Syariat
a. Lebih peduli tampilan daripada akhlak
- Pakai
baju syar’i, tapi sering menghina orang lain di komentar.
- Konten
OOTD “hijab syar’i”, tapi pose-pose berlebihan.
b. Mencari popularitas lewat simbol agama
- Dakwah
tapi sensasional.
- Meme
islami tapi tidak adab.
c. Konsumtif atas nama agama
- Membeli
produk “islami” bukan karena kebutuhan, tapi tren.
- Mengikuti
ustaz viral tanpa memeriksa kredibilitas.
d. Normalisasi campur aduk halal-haram
- Konten
masak dengan musik dan goyangan, tapi caption “Bismillah”.
- Jualan
dengan cara menipu, tapi promosi “halal dan amanah”.
6. Mengapa Penyimpangan Ini Terjadi?
a. Media sosial menciptakan budaya visual
Yang
dinilai “syar’i” adalah apa yang terlihat di kamera, bukan perilaku saat tidak
dilihat orang.
b. Kurangnya pemahaman mendalam
Pemahaman
syariat sering didapat dari potongan video <30 detik, bukan belajar dari
guru yang benar.
c. Tekanan sosial
Takut
terlihat tidak religius, akhirnya mengikuti tren tanpa memahami esensinya.
d. Komodifikasi agama
Syariat
dijual sebagai produk.
7. Dampaknya bagi Masyarakat
- Makna
syariat menjadi kabur
- Masyarakat
bingung membedakan mana yang benar
- Agama
terlihat hanya soal gaya, bukan akhlak
- Pertengkaran
di komentar soal hal kecil dan sepele
- Budaya
tabarruj digital meningkat meski dibungkus simbol
religius
8. Kesimpulan: Kembali ke Makna Asli Syariat
Inti
syariat bukanlah label, pakaian, atau tren.
Intinya adalah:
Menata
hidup sesuai nilai kebaikan, kejujuran, dan ketakwaan.
Jika
hanya fokus pada tampilan luar, maka makna syariat akan terus menyimpang,
apalagi di era konten pendek dan budaya viral.
Syariat
adalah nilai, bukan dekorasi.

