Apakah yang dimaksud dengan Normalisasi Deviasi ?

0

 


1. Apa yang Dimaksud dengan Normalisasi Deviasi?

Normalisasi deviasi adalah proses sosial ketika perilaku yang sebenarnya menyimpang dari nilai, norma, atau aturan perlahan dianggap wajar, lalu diterima sebagai hal biasa karena sering terjadi dan tidak langsung diberi sanksi.

Awalnya orang sadar itu salah.
Lama-lama karena sering dilihat, sering dilakukan, dan jarang ditegur → rasa salahnya memudar.
Akhirnya muncul kalimat:

“Sekarang memang zamannya begitu.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Selama tidak ketahuan, ya aman.”

Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh Diane Vaughan (1996) dalam analisis kecelakaan pesawat ulang-alik Challenger, tetapi kini banyak dipakai dalam kajian sosiologi, psikologi sosial, dan pendidikan.

2. Bagaimana Proses Normalisasi Deviasi Terjadi?

Normalisasi deviasi tidak terjadi tiba-tiba, tetapi melalui tahapan yang halus:

a. Penyimpangan Kecil

Perilaku menyimpang dimulai dari hal ringan.

“Cuma sekali.”
“Nggak parah kok.”

b. Tidak Ada Teguran atau Konsekuensi

Lingkungan diam:

  • Guru membiarkan
  • Orang tua cuek
  • Teman menormalisasi

c. Pengulangan

Karena tidak ada masalah, perilaku diulang.

d. Penerimaan Sosial

Orang lain ikut melakukan.
Yang tidak ikut malah dianggap aneh.

e. Pergeseran Standar Moral

Yang dulu salah → sekarang biasa.
Yang dulu tabu → sekarang konten.

3. Bentuk Normalisasi Deviasi pada Remaja dan Pelajar Saat Ini

3.1 Dalam Perilaku Sosial dan Pergaulan

Contoh:

  • Pacaran yang dulu jaga jarak, sekarang dianggap wajar bermesraan di tempat umum
  • Berduaan di ruang sepi dianggap “hak pribadi”
  • Menginap lawan jenis disebut “teman saja”

Padahal dulu:

“Itu tidak pantas.”
Sekarang:
“Ah, lebay amat.”

➡️ Bukan berarti semua remaja demikian, tetapi yang bermasalah adalah ketika perilaku itu dianggap standar baru.

3.2 Dalam Dunia Digital dan Media Sosial

Media sosial adalah mesin utama normalisasi deviasi.

Contoh:

  • Pamer aurat dianggap “percaya diri”
  • Konten sensual disebut “estetika”
  • Flexing disebut “motivasi”
  • Ujaran kasar → “cuma bercanda”

Remaja yang sering melihat:

  • Lama-lama mati rasa
  • Tidak lagi bertanya “ini pantas atau tidak”
  • Yang penting: views, likes, validasi

Menurut teori social learning (Bandura), perilaku yang sering dilihat tanpa konsekuensi akan ditiru, apalagi jika pelakunya terlihat “sukses”.

3.3 Dalam Dunia Sekolah dan Akademik

Contoh konkret di sekolah:

  • Menyontek → “kerja sama”
  • Copy-paste tugas → “yang penting ngumpul”
  • Datang terlambat → “semua juga telat”
  • Melanggar tata tertib → “guru juga capek negur”

Yang lebih berbahaya:

Siswa jujur dianggap kaku
Siswa taat aturan dianggap cupu

➡️ Ini tanda deviasi sudah menjadi norma kelompok.

3.4 Dalam Bahasa dan Cara Berpikir

Normalisasi deviasi juga terlihat dari bahasa yang digunakan:

  • “Yang penting nyaman”
  • “Nggak ganggu orang lain”
  • “Zaman sekarang beda”
  • “Agama jangan dibawa ke semua hal”

Bahasa ini menunjukkan:
➡️ Nilai moral dipersempit jadi urusan selera pribadi, bukan lagi tanggung jawab sosial.

4. Mengapa Normalisasi Deviasi Berbahaya?

a. Mengikis Batas Benar dan Salah

Anak muda tumbuh tanpa kompas moral yang jelas.

b. Membentuk Karakter yang Pragmatis

Yang penting:

  • Aman
  • Untung
  • Tidak viral negatif
    Bukan lagi: benar atau salah.

c. Menekan Anak yang Ingin Taat Nilai

Siswa yang menjaga diri malah:

  • Diejek
  • Dikucilkan
  • Dianggap kuno

d. Efek Jangka Panjang ke Dunia Kerja dan Masyarakat

Normalisasi deviasi di sekolah →
Normalisasi korupsi kecil, manipulasi, dan pelanggaran etika di dunia kerja.

5. Mengapa Fenomena Ini Kuat pada Generasi Sekarang?

Beberapa faktor utama:

  1. Media sosial tanpa filter nilai
  2. Minim keteladanan orang dewasa
  3. Takut dianggap kolot jika menegur
  4. Pendidikan karakter bersifat simbolik
  5. Relativisme moral (“semua tergantung sudut pandang”)

6. Penutup: Normalisasi Deviasi Bukan Sekadar Masalah Remaja

Penting dipahami:

Normalisasi deviasi bukan karena anak muda rusak,
tetapi karena lingkungan sosial berhenti memberi batas yang tegas.

Jika:

  • Yang salah terus dibiarkan
  • Yang benar terus ditertawakan

Maka jangan heran bila generasi tumbuh tanpa rasa bersalah, tapi juga tanpa arah.

Referensi Konseptual (untuk pendalaman akademik):

  • Vaughan, D. (1996). The Challenger Launch Decision: Risky Technology, Culture, and Deviance at NASA. University of Chicago Press.
  • Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice Hall.
  • Durkheim, É. (1897). Suicide: A Study in Sociology (konsep anomie).

 


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)