Mengapa Muncul Istilah “Hijab Haram”?

0

 


1. Mengapa Muncul Istilah “Hijab Haram”?

Secara normatif, istilah hijab haram sebenarnya tidak dikenal dalam fikih klasik. Dalam kajian Islam, yang ada adalah:

  • Hijab sebagai kewajiban (menutup aurat),
  • Tetapi cara, niat, dan dampaknya bisa menjadikannya bernilai pahala, sia-sia, bahkan dosa.

Istilah hijab haram muncul bukan untuk menyatakan kain hijabnya haram, melainkan sebagai kritik sosial dan moral terhadap fenomena:

hijab dipakai secara simbolik, tetapi bertentangan dengan tujuan syariatnya.

Dalam bahasa sederhana:
pakai hijab, tapi fungsinya “rusak”.

 

2. Makna Hijab dalam Islam (Singkat dan Jelas)

Hijab dalam Islam tidak hanya soal penutup kepala, tetapi mencakup:

  1. Menutup aurat
  2. Tidak membentuk lekuk tubuh
  3. Tidak menarik perhatian berlebihan
  4. Mencerminkan sikap malu (ḥayā’)
  5. Diniatkan sebagai ketaatan, bukan sekadar gaya

Ini sejalan dengan prinsip maqāṣid al-syarī‘ah (tujuan syariat), yaitu menjaga:

  • kehormatan,
  • akhlak,
  • dan ketertiban sosial.

 

3. Lalu, Apa yang Dimaksud “Hijab Haram”?

Dalam bahasa sehari-hari, “hijab haram” dipakai untuk menggambarkan kondisi seperti ini:

Secara fisik terlihat berhijab, tapi secara fungsi justru melanggar nilai hijab itu sendiri.

Bukan berarti kainnya haram,
tetapi cara memakainya, niatnya, atau perilakunya bisa mengandung unsur yang dilarang.

 

4. Contoh-contoh “Hijab Haram” dalam Kehidupan Sehari-hari

a. Hijab Tapi Membuka Aurat Lainnya

Misalnya:

  • Kepala tertutup,
  • Tapi leher, dada, lengan, atau perut terbuka,
  • Atau pakaian sangat ketat hingga membentuk tubuh.

Orang awam sering bilang:

“Tutup kepala, tapi auratnya pindah.”

 

b. Hijab sebagai Alat Pamer dan Sensasi

Contoh yang sering terlihat:

  • Hijab dipakai untuk konten joget sensual,
  • Foto atau video dengan pose menggoda,
  • Tujuan utamanya: like, views, endorse.

Masalahnya bukan di hijabnya,
tetapi hijab dipakai untuk sesuatu yang bertentangan dengan nilai kesopanan.

 

c. Hijab tapi Perilaku Bertolak Belakang

Misalnya:

  • Ujaran kasar,
  • Flexing berlebihan,
  • Normalisasi pacaran bebas,
  • Merendahkan nilai agama lain atau sesama muslim.

Akhirnya muncul komentar masyarakat:

“Hijabnya ada, tapi akhlaknya hilang.”

 

d. Hijab sebagai Identitas Palsu

Ini yang cukup serius:

  • Hijab dipakai hanya untuk citra,
  • Tapi saat menguntungkan dilepas,
  • Saat butuh legitimasi moral, dipakai lagi.

Hijab berubah dari ibadah menjadi kostum situasional.

 

5. Kenapa Istilah Ini Sensitif dan Kontroversial?

Karena ada dua risiko besar:

a. Risiko Menghakimi

Tidak semua orang yang berhijab “belum sempurna” bisa langsung dicap buruk.
Islam sendiri mengajarkan tahap dan proses hijrah.

b. Risiko Normalisasi Penyimpangan

Di sisi lain, jika semua dikatakan “yang penting niat”,
maka batas halal-haram jadi kabur.

Inilah dilema yang membuat istilah hijab haram sering dipakai sebagai peringatan keras, bukan vonis hukum.

 

6. Inti Masalahnya Bukan Hijab, Tapi Paradigma

Masalah utamanya bukan:

“perempuan salah pakai hijab”

Tetapi:

  • Hijab direduksi jadi fashion semata,
  • Syariat dipisahkan dari akhlak dan perilaku,
  • Agama dijadikan aksesoris identitas, bukan nilai hidup.

Dalam konteks ini, hijab haram adalah kritik terhadap kontradiksi, bukan ajaran resmi.

 

7. Penutup (Bahasa Sederhana)

Kalau diringkas dengan bahasa paling mudah:

Hijab itu ibarat helm.
Dipakai benar → melindungi.
Dipakai asal-asalan atau buat gaya → bisa bahaya.

Jadi, istilah hijab haram muncul karena kegelisahan sosial:

  • hijab makin terlihat,
  • tapi maknanya makin hilang.

Bukan untuk menjatuhkan,
melainkan untuk mengingatkan bahwa hijab itu amanah, bukan sekadar penampilan.

 


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)