1. Mengapa Muncul Istilah “Hijab Haram”?
Secara normatif,
istilah hijab haram sebenarnya tidak dikenal dalam fikih klasik.
Dalam kajian Islam, yang ada adalah:
- Hijab
sebagai kewajiban (menutup aurat),
- Tetapi
cara, niat, dan dampaknya bisa menjadikannya bernilai pahala,
sia-sia, bahkan dosa.
Istilah hijab
haram muncul bukan untuk menyatakan kain hijabnya haram, melainkan
sebagai kritik sosial dan moral terhadap fenomena:
hijab
dipakai secara simbolik, tetapi bertentangan dengan tujuan syariatnya.
Dalam
bahasa sederhana:
pakai hijab, tapi fungsinya “rusak”.
2. Makna Hijab dalam Islam (Singkat dan Jelas)
Hijab
dalam Islam tidak hanya soal penutup kepala, tetapi mencakup:
- Menutup
aurat
- Tidak
membentuk lekuk tubuh
- Tidak
menarik perhatian berlebihan
- Mencerminkan
sikap malu (ḥayā’)
- Diniatkan
sebagai ketaatan, bukan sekadar gaya
Ini
sejalan dengan prinsip maqāṣid al-syarī‘ah (tujuan syariat), yaitu
menjaga:
- kehormatan,
- akhlak,
- dan
ketertiban sosial.
3. Lalu, Apa yang Dimaksud “Hijab Haram”?
Dalam
bahasa sehari-hari, “hijab haram” dipakai untuk menggambarkan kondisi
seperti ini:
Secara
fisik terlihat berhijab, tapi secara fungsi justru melanggar nilai hijab itu
sendiri.
Bukan
berarti kainnya haram,
tetapi cara memakainya, niatnya, atau perilakunya bisa mengandung unsur
yang dilarang.
4. Contoh-contoh “Hijab Haram” dalam Kehidupan
Sehari-hari
a. Hijab Tapi Membuka Aurat Lainnya
Misalnya:
- Kepala
tertutup,
- Tapi
leher, dada, lengan, atau perut terbuka,
- Atau
pakaian sangat ketat hingga membentuk tubuh.
Orang
awam sering bilang:
“Tutup
kepala, tapi auratnya pindah.”
b. Hijab sebagai Alat Pamer dan Sensasi
Contoh
yang sering terlihat:
- Hijab
dipakai untuk konten joget sensual,
- Foto
atau video dengan pose menggoda,
- Tujuan
utamanya: like, views, endorse.
Masalahnya
bukan di hijabnya,
tetapi hijab dipakai untuk sesuatu yang bertentangan dengan nilai kesopanan.
c. Hijab tapi Perilaku Bertolak Belakang
Misalnya:
- Ujaran
kasar,
- Flexing
berlebihan,
- Normalisasi
pacaran bebas,
- Merendahkan
nilai agama lain atau sesama muslim.
Akhirnya
muncul komentar masyarakat:
“Hijabnya
ada, tapi akhlaknya hilang.”
d. Hijab sebagai Identitas Palsu
Ini yang
cukup serius:
- Hijab
dipakai hanya untuk citra,
- Tapi
saat menguntungkan dilepas,
- Saat
butuh legitimasi moral, dipakai lagi.
Hijab
berubah dari ibadah menjadi kostum situasional.
5. Kenapa Istilah Ini Sensitif dan Kontroversial?
Karena
ada dua risiko besar:
a. Risiko Menghakimi
Tidak
semua orang yang berhijab “belum sempurna” bisa langsung dicap buruk.
Islam sendiri mengajarkan tahap dan proses hijrah.
b. Risiko Normalisasi Penyimpangan
Di sisi
lain, jika semua dikatakan “yang penting niat”,
maka batas halal-haram jadi kabur.
Inilah
dilema yang membuat istilah hijab haram sering dipakai sebagai peringatan
keras, bukan vonis hukum.
6. Inti Masalahnya Bukan Hijab, Tapi Paradigma
Masalah
utamanya bukan:
“perempuan
salah pakai hijab”
Tetapi:
- Hijab
direduksi jadi fashion semata,
- Syariat
dipisahkan dari akhlak dan perilaku,
- Agama
dijadikan aksesoris identitas, bukan nilai hidup.
Dalam
konteks ini, hijab haram adalah kritik terhadap kontradiksi,
bukan ajaran resmi.
7. Penutup (Bahasa Sederhana)
Kalau
diringkas dengan bahasa paling mudah:
Hijab itu
ibarat helm.
Dipakai benar → melindungi.
Dipakai asal-asalan atau buat gaya → bisa bahaya.
Jadi,
istilah hijab haram muncul karena kegelisahan sosial:
- hijab
makin terlihat,
- tapi
maknanya makin hilang.
Bukan
untuk menjatuhkan,
melainkan untuk mengingatkan bahwa hijab itu amanah, bukan sekadar
penampilan.

