Pentingnya Menuntut Ilmu: Jangan Sia-siakan Masa
Sekolah
1. Sekolah Bukan Sekadar Datang, Duduk, dan Pulang
Banyak
pelajar menjalani sekolah hanya sebagai rutinitas: berangkat pagi, duduk di
kelas, pulang siang, lalu mengulang hal yang sama keesokan harinya. Padahal, masa
sekolah adalah fase paling strategis dalam hidup manusia. Pada fase ini,
otak masih sangat plastis (mudah dibentuk), kebiasaan hidup sedang terbentuk,
dan arah masa depan mulai ditentukan.
Secara psikologis, usia remaja adalah critical period untuk pembentukan pola pikir, disiplin, dan etos kerja (Steinberg, 2014). Apa yang ditanamkan di masa ini akan terbawa hingga dewasa. Jika masa sekolah disia-siakan, penyesalan biasanya datang belasan tahun kemudian—saat tenaga mulai berkurang, tanggung jawab bertambah, dan kesempatan belajar tidak lagi seluas dulu
2. Ilmu dan Skill: Bekal Utama Menghadapi Dunia Nyata
Di dunia
nyata, setelah lulus sekolah atau kuliah, nilai rapor tidak lagi ditanya,
tetapi yang dicari adalah:
- Apa
yang bisa kamu kerjakan?
- Skill
apa yang kamu kuasai?
- Seberapa
cepat kamu belajar hal baru?
- Apakah
kamu bisa bekerja sama dan bertanggung jawab?
Inilah
mengapa menuntut ilmu tidak boleh dipersempit hanya pada mengejar nilai,
tetapi juga membangun kompetensi.
a. Hard Skill: Modal Teknis yang Nyata
Hard
skill adalah kemampuan teknis yang bisa diukur dan dilatih, seperti:
- Mengoperasikan
komputer dan teknologi
- Menguasai
keahlian jurusan (khusus SMK)
- Bahasa
asing
- Literasi
digital dan numerasi
- Keterampilan
analitis dan problem solving
Penelitian
World Economic Forum (2023) menegaskan bahwa pekerja masa depan adalah
mereka yang memiliki keterampilan teknis sekaligus mampu beradaptasi dengan
teknologi baru.
b. Soft Skill: Penentu Bertahan atau Tidaknya
Seseorang
Banyak
orang pintar secara akademik, tetapi gagal di dunia kerja atau usaha karena
lemah soft skill. Soft skill meliputi:
- Disiplin
- Tanggung
jawab
- Komunikasi
- Kerja
sama tim
- Manajemen
emosi
- Etika
dan sikap kerja
Studi
Harvard University menunjukkan bahwa kesuksesan karier 80% ditentukan oleh
soft skill dan hanya 20% oleh hard skill (Heckman & Kautz, 2012).
Artinya, sekolah bukan hanya tempat belajar mata pelajaran, tetapi tempat
melatih sikap hidup.
3. Terlalu Banyak Main dan Pacaran: Masalah yang
Sering Diremehkan
Bermain
dan bersosialisasi itu wajar. Namun yang menjadi masalah adalah tidak bisa
mengendalikan prioritas.
Banyak
pelajar:
- Lebih
serius memikirkan pacar daripada masa depan
- Waktu
habis untuk nongkrong, game, dan media sosial
- Belajar
hanya saat akan ujian
- Tidak
punya target hidup yang jelas
Secara
sosiologis, ini disebut delayed responsibility, yaitu kecenderungan
remaja menunda tanggung jawab karena merasa “masih muda” (Arnett, 2015).
Padahal, dunia tidak menunggu kesiapan seseorang.
Pacaran
yang tidak sehat sering:
- Menguras
waktu dan emosi
- Menurunkan
fokus belajar
- Memicu
konflik, cemburu, dan stres
- Mengganggu
perkembangan mental
Bukan
berarti harus anti pergaulan, tetapi segala sesuatu harus tahu batas dan
waktu. Masa sekolah bukan waktunya hidup santai tanpa arah.
4. Belajar Hari Ini adalah Investasi Masa Depan
Setiap
jam belajar hari ini adalah tabungan masa depan. Orang yang serius
menuntut ilmu sejak muda akan:
- Lebih
siap masuk dunia kerja
- Lebih
percaya diri saat kuliah
- Lebih
berani membuka usaha
- Tidak
mudah tertipu atau dimanfaatkan orang lain
Sebaliknya,
orang yang malas belajar biasanya:
- Bingung
setelah lulus
- Sulit
bersaing
- Mudah
mengeluh
- Menyalahkan
keadaan, orang tua, atau sistem
Penelitian
OECD (2022) menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dan keterampilan berbanding
lurus dengan peluang kerja, pendapatan, dan kualitas hidup.
5. Jangan Tunggu Menyesal: Waktu Tidak Bisa Diulang
Salah
satu kalimat yang sering terdengar dari orang dewasa adalah:
“Andai
dulu saya rajin belajar…”
Kalimat
ini hampir tidak pernah keluar dari orang yang memanfaatkan masa sekolahnya
dengan baik. Penyesalan selalu datang terlambat. Waktu muda tidak bisa
diulang, tetapi dampaknya bisa dirasakan seumur hidup.
Belajar
memang melelahkan, tetapi kebodohan jauh lebih melelahkan di masa depan.
6. Penutup: Pilihan Ada di Tangan Sendiri
Sekolah
sudah menyediakan:
- Guru
- Fasilitas
- Waktu
- Kesempatan
belajar
Yang
menentukan hasil akhirnya adalah sikap peserta didik itu sendiri. Mau
serius atau santai, mau fokus atau main-main, mau membangun masa depan atau
menundanya—semua adalah pilihan pribadi.
Menuntut
ilmu bukan untuk guru, bukan untuk orang tua, tetapi untuk diri sendiri.
Referensi Ilmiah (Rujukan)
- Arnett,
J. J. (2015). Emerging Adulthood: The Winding Road from the Late Teens
through the Twenties. Oxford University Press.
- Heckman,
J. J., & Kautz, T. (2012). Hard evidence on soft skills. Labour
Economics, 19(4), 451–464.
- OECD.
(2022). Education at a Glance. OECD Publishing.
- Steinberg,
L. (2014). Age of Opportunity: Lessons from the New Science of
Adolescence. Houghton Mifflin Harcourt.
- World
Economic Forum. (2023). The Future of Jobs Report.

