Pergeseran Standar Sosial dan Nilai pada Remaja

0

 


Pergeseran Standar Sosial dan Nilai pada Remaja: Dampak Budaya, Media, dan Struktur Keluarga

1. Pergeseran Standar Sosial dan Nilai: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Daripada mengatakan etika dan moralitas remaja “hilang”, lebih tepat jika dikatakan terjadi pergeseran standar sosial dan nilai. Pergeseran ini tidak muncul tiba-tiba, tetapi dipengaruhi oleh tiga faktor besar:

a. Perubahan Budaya

Budaya masyarakat hari ini jauh lebih terbuka dan global. Nilai yang dulu bersifat lokal dan komunal kini bercampur dengan budaya global melalui internet. Standar sopan santun yang dulu ditentukan lingkungan sekitar, kini bersaing dengan standar global yang lebih permisif.

b. Media Digital dan Algoritma

Platform seperti TikTok dan Instagram bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi mesin pembentuk budaya. Algoritma mempromosikan konten yang menarik perhatian, bukan yang paling bermoral atau edukatif. Akibatnya, standar “keren”, “cantik”, atau “gaul” ditentukan oleh tren viral.

c. Struktur Keluarga yang Berubah

Banyak orang tua bekerja penuh waktu, interaksi keluarga berkurang, dan pendidikan nilai sering kalah oleh paparan layar. Kontrol sosial tradisional melemah. Teguran dari orang tua atau tetangga tidak lagi sekuat dulu.

Menurut teori perkembangan moral dari Lawrence Kohlberg, nilai moral anak berkembang dari interaksi sosial. Jika lingkungannya berubah, maka standar moral yang terbentuk juga ikut berubah.

Inilah titik awal yang kemudian menjelaskan fenomena-fenomena berikut.

2. Fenomena Berpakaian: Ketika Mode Menggeser Norma

Pergeseran nilai terlihat jelas pada cara berpakaian.

Dulu:

  • Pakaian ketat sering karena sudah kekecilan.
  • Jika dianggap tidak pantas, lingkungan langsung menegur.
  • Ada rasa sungkan jika menjadi pusat perhatian.

Sekarang:

  • Pakaian ketat justru menjadi bagian dari tren fashion.
  • Remaja melihat ribuan referensi gaya setiap hari.
  • Standar “pantas” ditentukan oleh apa yang sering muncul di beranda media sosial.

Terjadi apa yang disebut normalisasi visual. Ketika sesuatu sering dilihat, lama-lama terasa biasa. Bukan berarti anak tidak tahu norma, tetapi norma yang mereka lihat sudah berbeda.

Ini bukan hanya pada remaja. Orang dewasa pun ikut terpengaruh. Artinya, ini adalah perubahan budaya kolektif.

3. FOMO dan Budaya Eksistensi

Pergeseran nilai juga terlihat pada kebutuhan untuk eksis.

Remaja hari ini hidup dalam budaya FOMO (Fear of Missing Out). Jika ada tren joget viral, banyak yang merasa harus ikut. Jika tidak ikut, takut dianggap tidak gaul.

Contoh nyata:

  • Siswa membuat konten joget di sekolah demi konten.
  • Event yearbook bukan sekadar kenangan, tapi ajang tampil maksimal demi postingan.
  • Aktivitas dilakukan dengan pertimbangan “bagus untuk feed atau tidak”.

Dalam tahap perkembangan identitas menurut Erik Erikson, remaja memang sedang mencari jati diri. Masalahnya, media sosial menjadi panggung utama pencarian identitas tersebut. Validasi bukan lagi dari keluarga atau guru, tetapi dari jumlah like dan komentar.

4. Melemahnya Kontrol Sosial

Dulu, kontrol sosial sangat kuat:

  • Orang tua tegas.
  • Guru berani menegur.
  • Lingkungan cepat mengoreksi perilaku.

Sekarang:

  • Teguran sering dianggap terlalu keras.
  • Guru dibatasi oleh aturan profesional.
  • Kritik di media sosial sering ditafsirkan sebagai serangan pribadi.

Akibatnya, standar batasan menjadi kabur. Rasa malu bukan hilang, tetapi definisinya berubah. Malu bukan lagi soal norma masyarakat, tetapi soal “tidak percaya diri tampil di depan kamera”.

5. Dampak pada Pola Pikir dan Prestasi

Budaya konten cepat berdampak pada pola pikir. Remaja terbiasa dengan:

  • Video pendek 15–30 detik.
  • Informasi instan.
  • Hiburan cepat.

Hal ini dapat memengaruhi kemampuan berpikir mendalam dan fokus belajar. Jika tidak diimbangi literasi digital dan pendampingan, prestasi akademik bisa terdampak.

Namun penting ditekankan: tidak semua remaja demikian. Banyak juga yang mampu memanfaatkan media sosial untuk belajar, berbisnis, bahkan berkarya positif.

Kesimpulan

Yang terjadi hari ini bukan hilangnya moralitas, tetapi pergeseran standar sosial dan nilai akibat perubahan budaya, media digital, dan struktur keluarga. Pergeseran ini memengaruhi:

  • Cara berpakaian
  • Cara mencari pengakuan
  • Cara memaknai rasa malu
  • Cara membangun identitas

Pertanyaan pentingnya bukan “kenapa anak sekarang rusak?”, tetapi:

Bagaimana keluarga, sekolah, dan masyarakat membangun kembali standar nilai yang relevan dengan era digital tanpa kehilangan esensi kesopanan, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap diri sendiri?

 


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)