Pergeseran Standar Sosial
dan Nilai pada Remaja: Dampak Budaya, Media, dan Struktur Keluarga
1. Pergeseran Standar Sosial dan Nilai: Apa yang
Sebenarnya Terjadi?
Daripada
mengatakan etika dan moralitas remaja “hilang”, lebih tepat jika dikatakan
terjadi pergeseran standar sosial dan nilai. Pergeseran ini tidak muncul
tiba-tiba, tetapi dipengaruhi oleh tiga faktor besar:
a. Perubahan Budaya
Budaya
masyarakat hari ini jauh lebih terbuka dan global. Nilai yang dulu bersifat
lokal dan komunal kini bercampur dengan budaya global melalui internet. Standar
sopan santun yang dulu ditentukan lingkungan sekitar, kini bersaing dengan
standar global yang lebih permisif.
b. Media Digital dan Algoritma
Platform
seperti TikTok dan Instagram bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi mesin
pembentuk budaya. Algoritma mempromosikan konten yang menarik perhatian, bukan
yang paling bermoral atau edukatif. Akibatnya, standar “keren”, “cantik”, atau
“gaul” ditentukan oleh tren viral.
c. Struktur Keluarga yang Berubah
Banyak
orang tua bekerja penuh waktu, interaksi keluarga berkurang, dan pendidikan
nilai sering kalah oleh paparan layar. Kontrol sosial tradisional melemah.
Teguran dari orang tua atau tetangga tidak lagi sekuat dulu.
Menurut
teori perkembangan moral dari Lawrence Kohlberg, nilai moral anak berkembang
dari interaksi sosial. Jika lingkungannya berubah, maka standar moral yang
terbentuk juga ikut berubah.
Inilah
titik awal yang kemudian menjelaskan fenomena-fenomena berikut.
2. Fenomena Berpakaian: Ketika Mode Menggeser Norma
Pergeseran
nilai terlihat jelas pada cara berpakaian.
Dulu:
- Pakaian
ketat sering karena sudah kekecilan.
- Jika
dianggap tidak pantas, lingkungan langsung menegur.
- Ada
rasa sungkan jika menjadi pusat perhatian.
Sekarang:
- Pakaian
ketat justru menjadi bagian dari tren fashion.
- Remaja
melihat ribuan referensi gaya setiap hari.
- Standar
“pantas” ditentukan oleh apa yang sering muncul di beranda media sosial.
Terjadi
apa yang disebut normalisasi visual. Ketika sesuatu sering dilihat,
lama-lama terasa biasa. Bukan berarti anak tidak tahu norma, tetapi norma yang
mereka lihat sudah berbeda.
Ini bukan
hanya pada remaja. Orang dewasa pun ikut terpengaruh. Artinya, ini adalah
perubahan budaya kolektif.
3. FOMO dan Budaya Eksistensi
Pergeseran
nilai juga terlihat pada kebutuhan untuk eksis.
Remaja
hari ini hidup dalam budaya FOMO (Fear of Missing Out). Jika ada tren joget
viral, banyak yang merasa harus ikut. Jika tidak ikut, takut dianggap tidak
gaul.
Contoh
nyata:
- Siswa
membuat konten joget di sekolah demi konten.
- Event
yearbook bukan sekadar kenangan, tapi ajang tampil maksimal demi
postingan.
- Aktivitas
dilakukan dengan pertimbangan “bagus untuk feed atau tidak”.
Dalam
tahap perkembangan identitas menurut Erik Erikson, remaja memang sedang mencari
jati diri. Masalahnya, media sosial menjadi panggung utama pencarian identitas
tersebut. Validasi bukan lagi dari keluarga atau guru, tetapi dari jumlah like
dan komentar.
4. Melemahnya Kontrol Sosial
Dulu,
kontrol sosial sangat kuat:
- Orang
tua tegas.
- Guru
berani menegur.
- Lingkungan
cepat mengoreksi perilaku.
Sekarang:
- Teguran
sering dianggap terlalu keras.
- Guru
dibatasi oleh aturan profesional.
- Kritik
di media sosial sering ditafsirkan sebagai serangan pribadi.
Akibatnya,
standar batasan menjadi kabur. Rasa malu bukan hilang, tetapi definisinya
berubah. Malu bukan lagi soal norma masyarakat, tetapi soal “tidak percaya diri
tampil di depan kamera”.
5. Dampak pada Pola Pikir dan Prestasi
Budaya
konten cepat berdampak pada pola pikir. Remaja terbiasa dengan:
- Video
pendek 15–30 detik.
- Informasi
instan.
- Hiburan
cepat.
Hal ini
dapat memengaruhi kemampuan berpikir mendalam dan fokus belajar. Jika tidak
diimbangi literasi digital dan pendampingan, prestasi akademik bisa terdampak.
Namun
penting ditekankan: tidak semua remaja demikian. Banyak juga yang mampu
memanfaatkan media sosial untuk belajar, berbisnis, bahkan berkarya positif.
Kesimpulan
Yang
terjadi hari ini bukan hilangnya moralitas, tetapi pergeseran standar sosial
dan nilai akibat perubahan budaya, media digital, dan struktur keluarga.
Pergeseran ini memengaruhi:
- Cara
berpakaian
- Cara
mencari pengakuan
- Cara
memaknai rasa malu
- Cara
membangun identitas
Pertanyaan
pentingnya bukan “kenapa anak sekarang rusak?”, tetapi:
Bagaimana
keluarga, sekolah, dan masyarakat membangun kembali standar nilai yang relevan
dengan era digital tanpa kehilangan esensi kesopanan, tanggung jawab, dan penghargaan
terhadap diri sendiri?

