1. Lunturnya Nilai Haya’ (Rasa Malu) dan Adab
Berpakaian
Salah
satu nilai penting dalam Islam adalah haya’ (rasa malu yang terpuji).
Dalam banyak hadis, Rasulullah ï·º menekankan bahwa malu adalah bagian dari iman.
Contoh di Anak-anak:
- Anak
SD sudah terbiasa meniru gaya berpakaian artis atau influencer.
- Orang
tua membiarkan anak tampil di media sosial dengan pakaian yang kurang
pantas demi “lucu” atau “viral”.
Contoh di Remaja:
- Tren
pakaian ketat, transparan, atau menyerupai budaya luar tanpa
mempertimbangkan batas aurat.
- Selfie
dan upload foto dengan pose yang mengundang perhatian berlebihan.
Contoh di Dewasa:
- Menganggap
hijab hanya simbol, bukan kewajiban.
- Memamerkan
bentuk tubuh atau gaya hidup glamor di media sosial.
Fenomena
ini sering dikaitkan dengan budaya pamer (tabarruj) yang telah diperingatkan
dalam Al-Qur’an (QS. Al-Ahzab: 33).
Di era
digital, standar kepantasan banyak dipengaruhi algoritma media sosial, bukan
lagi nilai agama.
2. Lunturnya Nilai Menjaga Lisan (Etika Komunikasi)
Islam
sangat menekankan etika berbicara. Dalam QS. Al-Hujurat: 11–12, Allah melarang
ghibah, fitnah, dan merendahkan orang lain.
Namun
hari ini:
Di Media Sosial:
- Komentar
kasar, body shaming, saling hina di kolom komentar.
- Mudah
menyebarkan berita tanpa tabayyun (klarifikasi).
- Membagikan
aib orang lain untuk hiburan.
Anak-anak
dan remaja meniru pola komunikasi ini karena melihatnya sebagai hal biasa.
Padahal
dalam Islam, satu kalimat saja bisa mengangkat derajat atau menjatuhkan
seseorang.
3. Lunturnya Nilai Iffah (Menjaga Kehormatan Diri)
Di era
digital, akses terhadap konten yang tidak pantas sangat mudah.
Contoh nyata:
- Remaja
berpacaran secara bebas dan memamerkannya.
- Konten
“couple goals” yang dinormalisasi.
- Pornografi
dan sexting menjadi hal yang dianggap biasa.
Dalam
Islam, interaksi laki-laki dan perempuan memiliki batas yang jelas untuk
menjaga kehormatan dan stabilitas sosial.
Namun
saat norma agama kalah oleh budaya viral dan hiburan digital, batas ini sering
dianggap kuno atau terlalu ketat.
4. Lunturnya Nilai Amanah dan Kejujuran
Nilai
amanah sangat sentral dalam syariat Islam.
Namun
sekarang:
- Anak
sekolah terbiasa mencontek lewat grup chat.
- Copy-paste
tugas tanpa menyebut sumber.
- Orang
dewasa melakukan manipulasi data demi keuntungan.
Di dunia
digital, plagiarisme dan manipulasi menjadi lebih mudah dilakukan.
Padahal
Islam sangat tegas dalam soal kejujuran dan tanggung jawab.
5. Lunturnya Nilai Birrul Walidain dan Hormat
kepada Orang Tua
Dampak
lain dari budaya digital adalah melemahnya interaksi keluarga.
Contoh:
- Anak
lebih mendengarkan influencer dibanding orang tua.
- Remaja
membantah orang tua karena merasa lebih “update”.
- Orang
tua sendiri sibuk dengan gadget sehingga kurang menjadi teladan.
Hubungan
orang tua dan anak menjadi renggang bukan karena kebencian, tetapi karena
distraksi digital.
6. Lunturnya Nilai Kesederhanaan dan Qana’ah
Islam
mengajarkan qana’ah (merasa cukup).
Namun
media sosial mendorong:
- Gaya
hidup pamer kekayaan.
- Tekanan
untuk selalu terlihat sukses.
- Standar
hidup tinggi yang memicu iri dan dengki.
Akibatnya:
- Anak-anak
ingin barang mahal agar tidak dianggap ketinggalan.
- Remaja
merasa rendah diri karena membandingkan hidupnya dengan orang lain.
- Orang
dewasa terjebak utang demi gaya hidup.
Ini
berlawanan dengan prinsip kesederhanaan dalam syariat.
7. Lunturnya Nilai Ibadah sebagai Prioritas
Di era
digital, distraksi sangat besar:
- Shalat
ditunda karena game atau scrolling.
- Waktu
luang lebih banyak untuk hiburan dibanding tilawah atau majelis ilmu.
- Remaja
lebih hafal tren TikTok dibanding doa-doa harian.
Masalahnya
bukan pada teknologinya, tetapi pada prioritas yang berubah.
8. Normalisasi Perilaku yang Dahulu Dianggap Salah
Perubahan
besar di era digital adalah pergeseran standar moral.
Hal-hal
yang dulu dianggap tabu kini dianggap biasa karena:
- Sering
muncul di konten hiburan.
- Diulang
terus-menerus sehingga dianggap normal.
- Dikuatkan
oleh opini publik digital.
Fenomena
ini dalam kajian sosiologi disebut sebagai “normalization through repetition”.
Refleksi Kritis
Penting
dipahami bahwa:
- Tidak
semua anak dan remaja mengalami ini.
- Tidak
semua penggunaan media sosial negatif.
- Masalahnya
bukan pada teknologi, tetapi pada lemahnya filter nilai.
Era
digital mempercepat penyebaran budaya. Jika fondasi nilai syariat lemah, maka
arus budaya global lebih cepat menggeser standar moral.
Penutup
Lunturnya
nilai syariat Islam di masyarakat modern terlihat pada:
- Etika
berpakaian
- Etika
komunikasi
- Pergaulan
dan kehormatan diri
- Kejujuran
dan amanah
- Hubungan
keluarga
- Gaya
hidup konsumtif
- Prioritas
ibadah
Semua ini
tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia adalah hasil interaksi antara perubahan
budaya, media sosial, pola asuh, dan lemahnya pendidikan nilai.

