Pergeseran Tujuan Pernikaan

0

 


Fenomena perubahan tujuan pernikahan dari masa lalu ke masa kini memang tidak bisa dilepaskan dari perubahan sosial, ekonomi, budaya, dan teknologi. Untuk memahami mengapa pernikahan “terlihat” lebih langgeng dahulu dibanding sekarang, perlu analisis yang lebih struktural, bukan sekadar moralistik.

Berikut uraian sistematisnya.

1. Pergeseran Tujuan Pernikahan: Dari Kebutuhan Sosial ke Pemenuhan Emosional

a. Pernikahan Masa Lalu: Stabilitas dan Kelangsungan Hidup

Dalam masyarakat tradisional—misalnya di Indonesia era pra-industri—pernikahan berfungsi sebagai:

  • Aliansi keluarga
  • Kelangsungan keturunan
  • Distribusi peran ekonomi
  • Stabilitas sosial

Model ini selaras dengan teori struktural-fungsional seperti yang dikemukakan oleh Talcott Parsons. Dalam kerangka ini, keluarga adalah institusi dengan pembagian peran jelas:

  • Suami: peran instrumental (mencari nafkah)
  • Istri: peran ekspresif (mengasuh anak, menjaga rumah)

Tujuan utamanya sederhana: cukup makan, anak terurus, keluarga dihormati masyarakat.

Contoh nyata:

  • Banyak pasangan menikah karena dijodohkan.
  • Setelah menikah, adaptasi dilakukan setelah hidup bersama.
  • Konflik dianggap bagian dari takdir dan harus dijalani.

Romantisme bukan prioritas utama, tetapi stabilitas dan kehormatan keluarga.

b. Pernikahan Masa Kini: Cinta, Kepuasan, dan Aktualisasi Diri

Sejak era modernisasi dan globalisasi, pernikahan bergeser menjadi institusi berbasis cinta romantis dan kepuasan psikologis.

Menurut Anthony Giddens dalam konsep pure relationship, hubungan modern bertahan selama kedua pihak merasa puas secara emosional. Jika tidak lagi memberi kebahagiaan, hubungan cenderung diakhiri.

Artinya:

  • Pernikahan bukan lagi kewajiban sosial.
  • Tapi pilihan pribadi berbasis perasaan.

Contoh nyata:

  • “Aku butuh pasangan yang suportif secara emosional.”
  • “Aku tidak merasa dihargai, jadi lebih baik berpisah.”

Ekspektasi menjadi jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

2. Perubahan Struktur Peran Suami–Istri

Dulu: Peran Jelas, Minim Negosiasi

  • Suami kerja.
  • Istri di rumah.
  • Jarang ada diskusi soal pembagian kerja domestik.
  • Konflik sering dipendam.

Struktur ini sederhana, meskipun tidak selalu adil.

Sekarang: Peran Ganda dan Kompleks

Kini banyak pasangan:

  • Sama-sama bekerja.
  • Sama-sama memiliki ambisi karier.
  • Sama-sama ingin diakui.

Masalah muncul ketika:

  • Suami masih berpikir istri tetap bertanggung jawab penuh urusan rumah.
  • Istri merasa terbebani peran ganda.
  • Kurang komunikasi soal pembagian tugas.

Contoh nyata:

  • Istri bekerja seharian, pulang tetap memasak.
  • Suami merasa sudah cukup karena memberi nafkah.
  • Keduanya merasa lelah dan tidak dihargai.

Kompleksitas inilah yang membuat konflik lebih mudah muncul.

3. Banyaknya Pilihan dan Efek Media Sosial

Dulu:

  • Lingkup pencarian pasangan terbatas pada desa, sekolah, atau keluarga.
  • Tidak ada pembanding visual setiap hari.

Sekarang:

  • Media sosial memperluas pilihan tanpa batas.
  • Aplikasi kencan membuat alternatif selalu tersedia.
  • Paparan kehidupan “ideal” pasangan lain menciptakan standar tidak realistis.

Fenomena ini selaras dengan teori paradox of choice dari Barry Schwartz, yang menjelaskan bahwa terlalu banyak pilihan justru membuat orang:

  • Sulit puas
  • Mudah membandingkan
  • Cepat merasa kurang

Contoh nyata:

  • “Kenapa suamiku tidak seperti suami orang di Instagram?”
  • “Sepertinya ada yang lebih cocok di luar sana.”

Akibatnya, komitmen menjadi lebih rapuh.

4. Dulu Cerai Tabu, Sekarang Lebih Terbuka

Masa Lalu

  • Perceraian dianggap aib keluarga.
  • Tekanan sosial sangat kuat.
  • Perempuan khususnya sulit mandiri secara ekonomi.

Banyak pernikahan bertahan bukan karena harmonis, tetapi karena:

  • Tidak ada pilihan lain.
  • Takut stigma sosial.

Masa Kini

  • Perceraian lebih diterima secara sosial.
  • Perempuan lebih mandiri secara ekonomi.
  • Ada dukungan hukum dan sosial.

Di Indonesia, peningkatan angka perceraian dalam dua dekade terakhir banyak dipicu oleh:

  • Konflik ekonomi
  • Perselingkuhan
  • Ketidakcocokan

Namun perlu dicatat:
Lebih banyak perceraian bukan berarti lebih banyak kegagalan, tetapi juga bisa berarti:

  • Orang tidak lagi terjebak dalam relasi yang merugikan.

5. Perubahan Pola Pacaran dan Proses Memilih Pasangan

Dulu:

  • Minim masa pacaran.
  • Proses mengenal terjadi setelah menikah.
  • Komitmen didahulukan, perasaan menyusul.

Sekarang:

  • Pacaran panjang.
  • Banyak pertimbangan.
  • Tinggi ekspektasi kompatibilitas.

Ironisnya:
Semakin lama masa pacaran, belum tentu semakin siap menghadapi realitas pernikahan.

Karena:

  • Pacaran sering menampilkan versi terbaik diri.
  • Pernikahan memperlihatkan versi asli dalam tekanan ekonomi dan tanggung jawab.

6. Apakah Dulu Lebih Bahagia?

Tidak selalu.

Perbedaannya adalah:

Dulu

Sekarang

Stabil karena tekanan sosial

Bertahan karena kepuasan emosional

Peran jelas

Peran dinegosiasikan

Konflik dipendam

Konflik diungkap

Cerai tabu

Cerai pilihan

Bisa jadi dulu lebih langgeng, tetapi belum tentu lebih sehat secara psikologis.

7. Fenomena “Membuka Aib” di Media Sosial

Ini fenomena baru.

Faktor penyebab:

  • Budaya validasi publik.
  • Mencari simpati dan dukungan sosial.
  • Kurangnya batas privasi digital.

Contoh nyata:

  • Konflik rumah tangga diposting dalam status.
  • Screenshoot percakapan disebarkan.
  • Opini publik dijadikan “hakim”.

Dampaknya:

  • Konflik makin melebar.
  • Anak ikut terdampak.
  • Sulit rekonsiliasi karena sudah terlanjur terbuka.

8. Kesimpulan Analitis

Perubahan pernikahan bukan semata-mata karena generasi sekarang “lebih lemah”, tetapi karena:

  1. Ekspektasi meningkat (emosional, finansial, romantis).
  2. Peran menjadi lebih kompleks.
  3. Pilihan lebih banyak.
  4. Tekanan sosial menurun.
  5. Individualisme meningkat.

Pernikahan modern membutuhkan:

  • Keterampilan komunikasi.
  • Manajemen konflik.
  • Kesepakatan peran yang fleksibel.
  • Kedewasaan emosional.

Jika dulu pernikahan bertahan karena kewajiban,
maka sekarang pernikahan bertahan karena kualitas hubungan.

 


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)